Halalkah Rezeki Kita?

2 Dec 2009

Oleh : Adi Supriadi *)

Urgensi makanan yang halal menuntut adanya proses yang halal. Sebab, salah satu cara mendapatkan makanan yang halal adalah dengan sarana usaha yang halal juga. Apalagi di zaman sekarang ketika keimanan semakin tipis dan kebodohan sangat mendominasi bangsa kita. Bagaimana tidak! Mereka sudah tidak mengenal lagi halal dan haram. Bahkan, ada yang menyatakan yang haram saja susah apalagi yang halal. Padahal, setiap orang sudah ditetapkan bagian rezekinya dan Allah telah menyiapkan semuanya. Kita hanya diperintahkan untuk mencarinya dengan cara yang baik dan sesuai koridor syariat.

Rasulullah SAW bersabda, “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah usaha mencari rezeki karena jiwa tidak akan mati sampai sempurna rezekinya walaupun kadang agak tersendat-sendat. Maka, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mengusahakannya, ambillah yang halal dan buanglah yang haram.” (HR. Ibnu Majah)

Fenomena yang Ada

Banyak orang menyepelekan masalah ini. Sampai-sampai, tidak pernah peduli apakah yang diusahakannya halal atau haram dan cara mendapatkannya juga halal atau haram? Apalagi di zaman sekarang. Penipuan, dusta, pemalsuan, pencurian, dan korupsi menjadi salah satu senjata utama memperoleh uang. Kalau sudah demikian adanya, bisakah kita berharap doa kita dikabulkan dan diterima Allah? Kalau doa kita sudah tidak diterima lagi, kita kehilangan satu senjata pamungkas menuju kejayaan umat. Sebab, doa adalah senjata orang-orang yang beriman.

Oleh karena itu, jika sebahagian orang heran dan bertanya-tanya mengapa kita belum mendapat kemenangan? Mengapa bangsa ini selalu terpuruk? Mengapa bangsa ini selau banyak musibah? Harga diri bangsa seakan-akan terendahkan? Mengapa kita memohon kepada Allah dan merendah diri kepada-Nya agar Dia berkenan melapangkan kesusahan yang menimpa bangsa ini serta menghancurkan orang-orang zhalim tetapi tidak terkabulkan? Mereka heran, bagaimana dan mengapa?! Kemungkinan jawabannya adalah kelalaian kita dalam mencari makanan yang baik dan usaha kita yang baik. Sebab,

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt itu baik, tidak menerima kecuali yang baik, dan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkannya kepada para Rasul dalam firman-Nya, ‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dalam ayat lain Allah juga menegaskan, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu. (QS. Al Baqarah: 172)

Kemudian, beliau menyebutkan seorang laki-laki yang kusut warnanya seperti debu mengulurkan kedua tangannya ke langit sambil berdoa ‘Ya Rabb,Ya Rabb,’ sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram. Ia kenyang dengan makanan yang haram. Maka, bagaimana mungkin orang tersebut dikabulkan permohonannya?” (HR At-Tirmidzi).

Dalam hadits ini Rasulullah SAW menjelaskan kondisi seseorang yang bepergian dalam kondisi kusut masai dan mengangkat kedua tangannya merendahkan diri untuk meminta kepada Allah agar doanya dikabulkan. Namun, Allah menolak doanya karena makanan, pakaian, dan minumannya haram. Oleh karena itu, seorang ulama besar bernama Yusuf bin Asbath berkata, “Telah sampai kepada kami bahwa doa seorang hamba ditahan naik ke langit lantaran buruknya makanan (makanannya tidak halal)”. Demikian juga sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash yang terkenal memiliki doa mustajab, ketika ditanya mengenai sebab doanya diterima beliau berkata, “Aku tidak mengangkat sesuap makanan ke mulutku kecuali aku mengetahui dari mana datangnya dan dari mana ia keluar”.

Wajib Punya Ilmu

Jelas sudah dari uraian di atas, pentingnya makanan dan usaha yang halal. Tentu saja hal ini menuntut setiap orang untuk sadar dan mengetahui dengan baik setiap mu’amalat yang dilakukannya dan mengetahui dengan jelas dan gamblang sesuatu yang haram dan sesuatu yang halal serta yang syubhat (tidak jelas).

Seseorang yang akan berusaha mencari rezeki wajib mempelajari halal dan haramnya sesuatu yang akan menjadi usahanya. Oleh karena itu, Khalifah Umar bin Khattab berkata, “Janganlah berdagang di pasar kami kecuali orang faqih (mengerti tentang jual beli). Jika tidak, dia memakan riba”. Artinya, terjerumus ke dalamnya dan kebingungan. Itu pernyataan di zaman mereka yang dipenuhi ilmu, petunjuk, dan takwa. Lalu, bagaimana dengan zaman kita sekarang ini yang dipenuhi kebodohan, kesesatan, dan kemaksiatan? !

Bagaimana Langkah Kita

Tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali kembali mempelajari aturan dan ajaran Islam tentang usaha-usaha yang diperbolehkan dan dilarang serta jenis makanan yang halal dan haram. Tentunya dengan merujuk kepada Al-Quran dan Sunnah serta pemahaman para sahabat dan ulama yang mengikuti jalan mereka dengan baik.

Selamat belajar!!!!

Oleh : Adi Supriadi,S.Sos (Ahmad Muhammad Haddad Asyarkhan)

———————————

Penulis adalah Putra Kelahiran Ketapang Kalimantan Barat,

Alumni S1 Fakultas Dakwah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Haudl Ketapang,Kalimantan Barat

Aktivitas saat ini :

Mahasiswa S2 Manajemen Pemasaran Universitas Winaya Mukti Bandung, Jawa Barat.

Asisten Manager Human Resources Management PT Rabbani Asysa Garment Bandung, Jawa Barat.

Direktur Eksekutif Gerakan Pekerja Raih Sejahtera (GPRS) Bandung Jawa Barat

Ketua Umum Forum Majlis Ta’lim Pekerja (FORMATAP) Bandung Jawa Barat

Sekretaris Divisi Tani Tenaga Kerja & Buruh (TTKB) DPD PK Sejahtera Kota Bandung, Jawa Barat

Penulis di Media Online dan Penceramah diberbagai talkshow dan majlis Ta’lim Pekerja/Buruh di Kota Bandung, Jawa Barat

Terbit : Harian Pontianakpost , www.semuabisnis.com


TAGS Rezeki Halal


-

Author

Follow Me