Deep Thingking, Ciptakan Manusia Istimewa

2 Dec 2009

Oleh : Adi Supriadi *)

Sebaris kalimat Apakah Kamu Tidak Berfikir akan sering kita temukan di dalam Al Quran Mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW. Di Dalam AlQuran kalimat Apala Tatafakarun ini sering diletakkan Allah diakhir sebuah ayat, untuk menegaskan kepada hamba-hambanya apakah kita tidak menggunakan akal pikiran kita kalau dalam bahasa yang lain saya sering menyebutnya apakah kamu gila? karena sinonim dari kata atau kalimat tidak berfikir, atau tidak mempunyai akal itu adalah gila. Syarat berakal, atau mempunyai pikiran untuk membedakan yang baik dan buruk ini juga menjadi syarat utama untuk melaksanakan seluruh ibadah di dalam ajaran Islam. Misalnya, salah satu syarat wajib sholat adalah Berakal. Jika seorang hamba Allah belum berakal maka dia tidak wajib sholat, sama halnya jika seorang hamba Allah yang tidak mempunyai akal atau hilang akal maka diapun terbebas dari kewajiban sholat.

Baiklah, dalam kesempatan ini penulis tertarik untuk membahas Tatafakarun yang diambil dari bahasa arab dasarnya Tafakkara yan artinya pikiran, berfikir. Ada satu hal yang sesungguhnya sudah tidak relevan dengan kondisi dunia saat ini, yaitu orientasi dunia pendidikan kita masih berpegang pada mengajarkan pengetahuan, yang diharapkan dari proses transfer pengetahuan itu segala sesuatu akan berjalan dengan baik berdasarkan pada pengethuan yang diajarkan itu, dalam hal ini bukan berarti pengetahuan tidak penting, pengetahuan tetap merupakan hal yang sangat penting, namun pengetahuan bukanlah segala-galanya. Kita perlu mengajarkan kepada generasi selanjutnya untuk bisa berfikir dan bertindak, bukan sekedar tahu. Coba saya misalkan, siapa yang tidak tahu tahu Kalau Hutan itu penting, dari SD hingga perguruan tinggi kita sudah diberitahu bahwa Hutan sangat penting keberadaanya dalam kehidupan kita, tetapi sudahkan pengetahuan yang kita miliki membuat kita keras berfikir untuk mengelola hutan dengan cara yang benar? Karena tidak ada proses berfikir didalamnya.

Dunia yang berubah dengan sangat cepat menuntut individu untuk bisa memiliki kecakapan berpikir yang baik. Masa depan individu, masyarakat, dan seluruh dunia bergantung pada kemampuan berpikir kita. Kecakapan berpikir, walaupun merupakan hal yang sangat penting untuk dikuasai, sangat jarang diajarkan sebagai satu bidang studi. Berapa banyak sekolah yang mengajarkan kecakapan berpikir dalam kurikulumnya ? Jika sekolah ada mengajarkan kecakapan berpikir maka yang biasa mereka ajarkan adalah kecakapan berpikir kritis (critical thinking) yang berasal dari kata Yunani kritikos yang berarti menghakimi atau judgement.

Kita perlu memiliki kemampuan berfikir untuk menghasilkan ide atau gagasan, tidak sekedar menghakimi ide yang muncul. Coba kita lihat disekitar Kita, begitu banyak kita menemukan orang-orang yang suka menuduh, menghakimi tanpa ada proses klarifikasi dan ini buah dari dunia pendidikan Indonesia, kita perlu membuat perencanaan tindakan, bukan sekedar menghakimi perencanaan itu.

Ada orang yang percaya bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa dalam hal mengembangkan kecakapan berpikir. Mereka percaya bila anda cerdas maka anda adalah seorang pemikir yang cakap dan jika anda terlahir goblok maka tidak ada satupun hal yang bisa dilakukan untuk mengubah hal ini. Kecerdasan ibarat tenaga dari mesin sebuah mobil dan kecakapan berpikir seperti kecakapan menyetir mobil.

Ada dua hal yang dapat kita lakukan untuk mengubah pandangan salah ini: Pertama, Kita perlu memperlakukan berpikir seperti suatu kecakapan yang dapat dipelajari, dipraktekkan, dikembangkan, dilatih, dan ditingkatkan. Kedua, Kita perlu memperhatikan berpikir untuk bertindak

Kita perlu memperhatikan orang lain. Kita harus mempunyai perencanaan dan strategi. Ada saatnya kita perlu bekerja sama dan ada waktunya kita terpaksa untuk berkompetisi. Mungkin kita perlu melakukan negosiasi. Kita harus menebak dan memperhitungkan berbagai kemungkinan.

Banyak orang percaya bahwa berpikir hanya berhubungan memecahkan teka-teki/puzzle yang sulit di mana semua keping-keping puzzle disediakan dan kita harus menghasilkan jawaban dengan menyusun keping-keping itu. Kehidupan nyata tidak seperti merangkai keping puzzle. Kita tidak punya semua keping yang dibutuhkan. Kita harus menemukan sendiri keping-keping itu. Jawaban yang benar bisa lebih dari satu. Tidak ada satu jawaban yang mutlak paling benar.

Kita harus merancang tindakan kita. kita harus mempertimbangkan akibat yang timbul dari tindakan-tindakan kita. Dalam dunia nyata, masalah muncul sewaktu-waktu dan informasi yang tersedia untuk menyelesaikan masalah itu sering kali tidak lengkap. Tidak setiap masalah dapat dipecahkan dan kita mungkin akan frustrasi karena tidak dapat memecahkan suatu masalah. Meskipun demikian proses berpikir itu sendiri haruslah menyenangkan.

Semua akan terkendali dengan baik jika kita melakukan proses belajar dengan cara berfikir dan bertindak bukan sekedar transfer pengetahuan. Kalimat Apala Tatafakkarun yang sering disindir Allah Swt merupakan kunci yang dapat kita jadikan landasan untuk mengajak semua orang untuk berfikir dan berfikir setelah itu bertindak. Konsep pengajaran dengan oreintasi berfikir dan bertindak ini sudah sangat gamblang diajarkan Allah Swt untuk menciptakan manusia Istimewa seperti Muhammad SAW.Selamat Berfikir !

*) Penulis adalah Penulis Buku, Trainer, Konselor dan Pembicara Publik di Bandung, Jawa Barat. Alumnus STAI Al Haudl Ketapang, Kalbar

Terbit : Portal Volare FM Pontianak, kalbar , 16 juli 2008


TAGS 2008 Deep Thingking Manusia Istimewa


-

Author

Follow Me