Maknai Hijrah dengan Memahami Peran Kekhalifahan

1 Dec 2009

Oleh : Adi Supriadi

Dunia ini tempat bekerja, bukan tempat untuk memperoleh pahala, sedangkan akhirat itu tempat memperoleh pahala, bukan untuk tempat bekerja. Karena itu bekerjalah dengan sungguh-sungguh di tempat yang tiada pahala untuk nanti di tempat yang tiada pekerjaan

Ali Bin Abi Thalib

Di peristiwa Isra dan Miraj dan Hijrah, ada banyak hal yang dapat kita renungkan bersama, mengapa Rasulullah SAW dapat bertemu langsung dengan Allah Swt di Peristiwa Isra dan Mi’raj? Sementara malaikat Jibril As tidak bisa? Bukankah malaikat Jibril adalah malaikat yang diyakini sangat dekat dengan Allah Swt? Dan bukanlah Rasulullah SAW hanya manusia biasa? Kemudian mengapa Rasulullah memilih Hijrah ke Madinah di saat kondisi dakwah sedang dimulai di Kota Makkah. Di Artikel ini, penulis ingin membahasnya.

Jika kita renungkan hal ini, maka kita sesungguhnya akan menyadari bahwa Muhammad Rasulullah SAW dapat mengungguli Jibril As. Artinya seorang manusia biasa dapat mengungguli malaikat. Dahsyat bukan? Rasulullah SAW memang Nabi utusan Allah Swt, tetapi perlu kita ingat juga beliau adalah manusia biasa. Sedangkan Jibril adalah malaikat yang suci dari perbuatan dosa. Untuk itulah, mengapa banyak pendapat di kalangan Muslim, berkenaan dengan penafsiran ayat Al Quran surat At Tin yang menyatakan bahwa manusia bisa mempunyai derajat yang rendah layaknya bintang, tetapi juga bisa mempunyai derajat yang tinggi layaknya malaikat.

Tetapi, merujuk pada peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, bahwa beliau bisa lebih tinggi dari malaikat, karena malaikat hanya melakukan apa-apa yang diberikan Allah Swt. Sebaliknya manusia akan selalu mampu melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena kebebasan eksistensinya. Karena itu manusia bisa berkedudukan lebih rendah dari binatang yang paling rendah dan bisa berkedudukan lebih tinggi dari kedudukan malaikat.

Pertanyaannya, apakah hanya bisa dilakukan Rasulullah SAW saja? Jawabanya tidak! Karena Islam sudah menjawabnya dengan melahirkan tokoh-tokoh besar dengan karya besar mereka karena mereka sungguh-sungguh menjalani profesinya. Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman Bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Imam Al Ghazali, Ibnu Rusd, Ibnu Sina, dan ulama ilmuwan yang lainnya.

Sekarang mari kita lihat kedalam diri kita masing-masing, yaitu tentang kerja kita selama ini, apakah pekerjaan kita sudah sangat bermanfaat untuk ummat sekalian alam, sudahkah pekerjaan kita sudah kita lakukan dengan sungguh-sungguh. Mari kita jujur, sudah berapa banyak kebaikan yang sudah tersebar dari tangan kita? Kita manusia seperti Rasulullah SAW, lalu kapan kita bisa seperti beliau dengan kesungguhannya menjalankan amanah kerjanya sebagai seorang Nabi beliu bisa mengungguli malaikat? Pahamilah, bahwa kita mempunyai potensi yang sama. Sama-sama berpotensi untuk melebihi binatang dan sama-sama berpotensi melebihi malaikat. Kita diwajibkan untuk memilih diantara keduanya, islam mengajarkan pilihlah antara NUR dan JULUMAT ; Cahaya atau kegelapan atau lebih tepatnya SUKSES atau GAGAL.

Cobalah untuk kita mengerti mengapa kita suka melakukan kebohongan, menipu orang yang bermitra dengan kita, memfitnah pesaing-pesaing kita, mencuri harta yang bukan milik kita, takabur akan status kita, dan kita pun sudah sangat tahu kalau bangsa kita menjadi bangsa terkorup di dunia. Kitapun semakin sadar kenapa orang-orang terlalu berat melakukan kebaikan, tetapi cukup mudah untuk bermaksiat, mengapa dunia ini sangat menggiurkan dan akhirat sangat menakutkan. Jika dia adalah seorang pekerja, maka pekerja seperti ini akan sangat sulit tercerahkan, akhlaqnya buruk, dan hatinya dipenuhi kezaliman-kezaliman. Pekerja seperti ini sangat sulit untuk dibuat cerdas dan maju, dan orang ini tidak pantas diberi amanah pekerjaan.

Disamping itu, kita tidak boleh merasa puas dengan hasil karya kita yang sesaat itu, orang bijak mengatakan musuh terbesar kesuksesan hari ini adalah kesuksesan hari kemarin.

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial Politik Keagamaan, Alumnus STAI Al Haudl Ketapang, Kalbar.

Terbit : Harian Pontianakpost. Selasa,8 Januari 2008


TAGS Hijrah Khalifah 2008


-

Author

Follow Me